Demokrasi itu memberi ruang pada berbedanya pilihan. Sebagai sebuah sistem, demokrasi bukanlah yang terbaik. Ia mengandung banyak sekali kelemahan. Tetapi sistem inilah yang terbaik diantara yang terburuk. Sejarah dunia telah memenangkan demokrasi ketika ia dihadapkan pada sistem yang lain. Bahkan komunis yang dulunya dianggap sebagai tandingan demokrasi tidak kuat bertahan dan akhirnya jatuh. Tetapi apakah kemudian demokrasi memberi jaminan kesejahteraan kepada rakyat,jawabannya sangatlah tidak pasti.
Negara hanyalah sebuah imaji. Ia hanyalah khayalan dari rakyatnya yang bersepakat untuk hidup dalam sebuah ruang lingkup dengan dasar ruang lingkup hukum yang sama. Tujuan utama dari berdirinya sebuah negara adalah bagaimana kesejahteraan rakyat yang hidup didalamnya bisa tercapai. Prinsip-prinsip keadilan harus ada didalam setiap negara, karena tanpa itu, rasa kesejahteraan juga tidak akan terwujud. Lalu demokrasi dipilih menjadi sistem yang mengatur bagaimana kekuasaan bisa menjamin tercapainya kesejahteraan. Hampir sebagian negara-negara didunia memilih demokrasi atau jika tidak, akan dipaksa untuk memilih sistem ini oleh kekuatan-kekuatan yang memang menghendaki agar seluruh dunia menjadi demokratis.
Karena itulah demokrasi bagaimanapun harusnya memiliki dasar yang kuat terutama dari para pemimpin di masing-masing negara. Demokrasi sebuah negara tanpa dasar yang kuat tidak akan mengarahkan kekuasaan pada kesejahteraan rakyat tetapi pada kesejahteraan golongan tertentu. Disinilah letak persoalan demokrasi ketika ia dihadapkan pada pertanyaan, apakah sistem ini benar-benar menjami pencapian kesejahteraan rakyat di negara tersebut. Karena demikian terbukanya pada pilihan mengingat yang meraih suara terbanyaklah yang pilihannya akan dipakai menjadikan kebenaran juga mengikuti yang menang. Yang kalah akan dipaksa untuk menerima, meski sebenarnya mereka berdiri pada pendirian yang benar.
Ironisnya demokrasi kemudian pada negara berkembang dimana tingkat pendidikan rakyatnya masih sangat kurang seolah-olah dipaksakan. Dengan tingkat kesadaran diri yang rendah, pilihan dalam momentum demokrasi penentuan kekuasaan menjadi sangat tidak memiliki landasan idiil yang kuat. Apalagi ketika kepentingan pragmatis begitu menguasai pikiran dan benak seluruh rakyat sebagai pelaku utama dalam demokrasi. Jadilah kemudian kekuasaan lebih berbau uang ketimbang kepentingan kesejahteraan rakyat. Demokrasi menjadi dipenuhi jargon-jargon kosong yang ramai pada saat-saat kampanye lalu setelah terpilih sibuk mengurusi kepentingan dirinya sendiri.
Pemilihan presiden langsung saat ini di negeri kitapun memberikan gambaran kepada kita betapa rapuh dan kosongnya demokrasi yang kita laksanakan. Rakyat menentukan pilihannya pada perhitungan-perhitungan yang tidak lagi didasari akal sehat. Terlalu banyak pengaruh oleh rasa yang sayangnya didasari kepentingan jangka pendek. Itulah mengapa pilihan rakyat kepada sosok presiden bisa berubah di detik-detik terakhir. Perubahannyapun didasari pada logika-logika yang kurang relevan. Jika sudah begini, akan sulit berharap demokrasi kita akan mengarahkan kita pada pemimpin yang terbaik. Demokrasi seperti ini juga tidak mampu membimbing pemimpin terpilih untuk benar-benar melaksanakan janji-janji ketika kampanye. Demokrasi kita masih terlalu rapuh dan penuh dengan kehampaan.
Thursday, July 02, 2009
Friday, May 29, 2009
Miras dalam Tradisi Masyarakat Bali
Korban tewas yang jumlahnya mencapai belasan orang berjatuhan, puluhan lainnya masih dalam perawatan. Mereka adalah orang-orang yang menenggak minuman keras (miras) oplosan di Denpasar Bali. Entah kebetulan atau memang sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa, yang jelas kasus serupa terjadi beruntun di sejumlah kota lain di Indonesia. Misalnya saja di Kota Semarang dan Kota Tegal Jawa Tengah. Banyak korban tewas setelah menenggak miras oplosan.
Sebenarnya Miras dalam masyarakat Bali merupakan bagian dari tradisi yang sudah menyatu cukup lama. Bahkan miras seperti Arak dan Berem termasuk Tuak wajib ada dalam setiap ritual agama Hindu meski jumlahnya tidak banyak. Arak misalnya juga menjadi salah satu aba-abaan , semacam oleh-oleh dari warga yang dibawa kerumah warga lain yang sedang melaksanakan ritual upacara agama selain beras dan dupa. Tetapi jelas, bahwa miras arak disini sama sekali tidak dimaksudkan untuk diminum melainkan dipergunakan untuk tetabuhan (persembahan kepada Bhuta Kala).
Hanya saja sejak dahulu tradisi minum miras ditengah kehidupan masyrakat Bali memang sudah ada. Misalnya saja istilah metuakan yang merujuk pada aktivitas minum tuak di sudut-sudut atau warung-warung tuak di desa. Dimasa lalu, tradisi metuakan jelas hanya boleh dilakukan oleh mereka-mereka yang sudah dewasa. Jangan harap anak kecil atau remaja boleh meminum tuak di areal publik dengan ikut metuakan. Pastilah orang-orang tua akan dengan tegas menolak mereka dan melarang keras jika berani-beraninya ikut metuakan. Selain itu minuman keras dimasa lalu juga jenisnya terbatas dan bahannya mungkin hanya sekedar memabukkan tidak sampai membunuh seketika.
Lalu, entah mulai kapan, akhirnya aktivitas minum minuman keras di Bali menjadi demikian masif nya. Banyak anak-anak dan remaja yang sudah mengenal dan menjadi peminum (istilah bagi mereka yang suka menenggak miras) aktif. Yang paling membuat kita tidak habis pikir adalah aktivitas minum minuman keras para remaja generasi muda ini bisa dilakukan diareal publik tanpa ada siapapun yang bisa melarang apalagi menghentikannya. Lalu kebiasaan remaja-remaja Bali menenggak Miras menjadi sebuah kewajaran yang diterima begitu saja oleh masyarakat Bali. Tidak ada lagi orang tua yang bisa melarang tegas anaknya yang ramairami minum arak di pinggir jalan. Kalaupun melarang dan marah-marah, si anak tidak begitu menggubris, lalu mereka tetap saja larut didalam aktivitas minum miras, bahkan bisa hampir setiap malam.
Mungkin pelaksanaan Bazzar di Banjar-banjar yang digelar untuk penggalian dana bisa diajukan sebagai salah satu pemicu masifnya aktivitas minum miras di Bali. Bazzar-bazzar inilah yang juga meruntuhkan tembok ketat yang menabukan minum miras bagi generasi muda. Bazzar disini adalah yang dilaksanakan di era 90 an, karena sebelum itu Bazzar masih berjalan baik dan mengincar untung hanya dari makanan dan minuman biasa, tanpa melibatkan penjualan Miras terutama jenis Bir.
Di era 90 an, Bazzar sebagai event yang disetujui dan digelar Banjar memang memposisikan semua tetua sebagai "penjaga" moral di Banjar tersebut menjadi sangat lemah. Keterdesakan untuk mendatangkan dana/untung sebesar-besarnya menenggelamkan nilai-nilai ideal yang selama ini dipegang teguh masyarakat. Termasuk bagaimana generasi muda (truna-truna) di Banjar tersebut terlindungi dari aktivitas minum miras. Dalam setiap bazzar, keuntungan terbesar hanya diperoleh dari menjual berkrat-krat bir. Semakin banyak krat-krat bir yang bisa dijual, semakin banyaklah untung yang diraup pihak Banjar. Atas nama meraup keuntungan inipula, teruna-teruna Banjar disajikan setiap malam tamu-tamu yang mabuk-mabukan karena menenggak banyak sekali bir. Bahkan tidak jarang ada teruna-teruna di Banjar itu yang ikut Mabuk karena diajak oleh para tamu. Tidak ada yang berani melarang atau protes termasuk para tetua Banjar sanga penjaga nilai-nilai moral. Lalu tertanamlah dibenak teruna-teruna di Banjar itu bahwa Mabuk karena miras bukanlah sesuatu yang dilarang lagi. Runtuhlah kemudian nilai moral yang menyebut bahwa minum miras sampai mabuk adalah sesuatu yang tidak baik digantikan nilai baru yakni "mabuk-mabukan itu boleh-boleh saja".
Dalam perjalannya kemudian, kontaminasi budaya menenggak miras berjalan dengan sangat cepat ke generasi yang jauh lebih muda. Orang tuapun seakan-akan tak berdaya karena institusi Adat setingkat Banjar bahkan desa Adat tidak mampu berbuat banyak. Kedua institusi yang sebelumnya begitu ketat mengatur dan menjaga nilai-nilai moral menjadi demikian permisif, lemah dan tak berdaya. Namun sebagai sebuah institusi kondisi ini sebenarnya kuncinya terletak pada persoalan pergeseran budaya dan pemikiran di masyarakat Bali sendiri. Disinilah peranan uang dan materi demikian kuatnya menjadi kendali. Sederhananya begini; Orang Bali kini lebih merasa nyaman ketika mengenakan baju yang mewah, tinggal dirumah megah, memiliki Balai banjar yang megah dan Pura tempat bersembahyang yang megah pula meski semua itu dibangun diatas akar moralitas yang rapuh. Semakin lama budaya yang dikendalikan uang ini semakin kuat dan disadari atau tidak semakin meruntuhkan nilai-nilai moral yang ideal.
Kembali ke soal menenggak minuman keras, Kondisi generasi muda di Bali sebenarnya jauh lebih memprihatinkan di bandingkan di kota besar yang saya ketahui. Disemarang misalnya, mencari warung penjual minuman Bir misalnya tidaklah mudah. Mungkin hanya toko/warung tertentu saja. Demikian juga aktivitas generasi muda yang menenggak miras tidak terlalu masif seperti di Denpasar Bali. Atau mungkin saja ada, tetapi karena saya belum begitu mengenal daerah-daerah di kota Semarang ini jadinya saya tidak bisa melihat dengan jelas. Persoalannya yang penting kini adalah, siapakah yang bisa menghentikan pergeseran nilai budaya ini??? Pemerintah?? Sangat tidak mungkin karena mereka terlalu asyik dengan mainan kekuasaan nya. Kalaupun mau, masyarakat lah yang harus lebih cepat merubah dirinya, melakukan revolusi mental budaya. Berani dengan tegas berdiri diatas nilai moral dan mengesampingkan keutamaan materi dan kenikmatan duniawi yang mencerabut akar jati diri mereka. Apakah mungkin? Tidak ada yang bisa menjawab pasti.
Sebenarnya Miras dalam masyarakat Bali merupakan bagian dari tradisi yang sudah menyatu cukup lama. Bahkan miras seperti Arak dan Berem termasuk Tuak wajib ada dalam setiap ritual agama Hindu meski jumlahnya tidak banyak. Arak misalnya juga menjadi salah satu aba-abaan , semacam oleh-oleh dari warga yang dibawa kerumah warga lain yang sedang melaksanakan ritual upacara agama selain beras dan dupa. Tetapi jelas, bahwa miras arak disini sama sekali tidak dimaksudkan untuk diminum melainkan dipergunakan untuk tetabuhan (persembahan kepada Bhuta Kala).
Hanya saja sejak dahulu tradisi minum miras ditengah kehidupan masyrakat Bali memang sudah ada. Misalnya saja istilah metuakan yang merujuk pada aktivitas minum tuak di sudut-sudut atau warung-warung tuak di desa. Dimasa lalu, tradisi metuakan jelas hanya boleh dilakukan oleh mereka-mereka yang sudah dewasa. Jangan harap anak kecil atau remaja boleh meminum tuak di areal publik dengan ikut metuakan. Pastilah orang-orang tua akan dengan tegas menolak mereka dan melarang keras jika berani-beraninya ikut metuakan. Selain itu minuman keras dimasa lalu juga jenisnya terbatas dan bahannya mungkin hanya sekedar memabukkan tidak sampai membunuh seketika.
Lalu, entah mulai kapan, akhirnya aktivitas minum minuman keras di Bali menjadi demikian masif nya. Banyak anak-anak dan remaja yang sudah mengenal dan menjadi peminum (istilah bagi mereka yang suka menenggak miras) aktif. Yang paling membuat kita tidak habis pikir adalah aktivitas minum minuman keras para remaja generasi muda ini bisa dilakukan diareal publik tanpa ada siapapun yang bisa melarang apalagi menghentikannya. Lalu kebiasaan remaja-remaja Bali menenggak Miras menjadi sebuah kewajaran yang diterima begitu saja oleh masyarakat Bali. Tidak ada lagi orang tua yang bisa melarang tegas anaknya yang ramairami minum arak di pinggir jalan. Kalaupun melarang dan marah-marah, si anak tidak begitu menggubris, lalu mereka tetap saja larut didalam aktivitas minum miras, bahkan bisa hampir setiap malam.
Mungkin pelaksanaan Bazzar di Banjar-banjar yang digelar untuk penggalian dana bisa diajukan sebagai salah satu pemicu masifnya aktivitas minum miras di Bali. Bazzar-bazzar inilah yang juga meruntuhkan tembok ketat yang menabukan minum miras bagi generasi muda. Bazzar disini adalah yang dilaksanakan di era 90 an, karena sebelum itu Bazzar masih berjalan baik dan mengincar untung hanya dari makanan dan minuman biasa, tanpa melibatkan penjualan Miras terutama jenis Bir.
Di era 90 an, Bazzar sebagai event yang disetujui dan digelar Banjar memang memposisikan semua tetua sebagai "penjaga" moral di Banjar tersebut menjadi sangat lemah. Keterdesakan untuk mendatangkan dana/untung sebesar-besarnya menenggelamkan nilai-nilai ideal yang selama ini dipegang teguh masyarakat. Termasuk bagaimana generasi muda (truna-truna) di Banjar tersebut terlindungi dari aktivitas minum miras. Dalam setiap bazzar, keuntungan terbesar hanya diperoleh dari menjual berkrat-krat bir. Semakin banyak krat-krat bir yang bisa dijual, semakin banyaklah untung yang diraup pihak Banjar. Atas nama meraup keuntungan inipula, teruna-teruna Banjar disajikan setiap malam tamu-tamu yang mabuk-mabukan karena menenggak banyak sekali bir. Bahkan tidak jarang ada teruna-teruna di Banjar itu yang ikut Mabuk karena diajak oleh para tamu. Tidak ada yang berani melarang atau protes termasuk para tetua Banjar sanga penjaga nilai-nilai moral. Lalu tertanamlah dibenak teruna-teruna di Banjar itu bahwa Mabuk karena miras bukanlah sesuatu yang dilarang lagi. Runtuhlah kemudian nilai moral yang menyebut bahwa minum miras sampai mabuk adalah sesuatu yang tidak baik digantikan nilai baru yakni "mabuk-mabukan itu boleh-boleh saja".
Dalam perjalannya kemudian, kontaminasi budaya menenggak miras berjalan dengan sangat cepat ke generasi yang jauh lebih muda. Orang tuapun seakan-akan tak berdaya karena institusi Adat setingkat Banjar bahkan desa Adat tidak mampu berbuat banyak. Kedua institusi yang sebelumnya begitu ketat mengatur dan menjaga nilai-nilai moral menjadi demikian permisif, lemah dan tak berdaya. Namun sebagai sebuah institusi kondisi ini sebenarnya kuncinya terletak pada persoalan pergeseran budaya dan pemikiran di masyarakat Bali sendiri. Disinilah peranan uang dan materi demikian kuatnya menjadi kendali. Sederhananya begini; Orang Bali kini lebih merasa nyaman ketika mengenakan baju yang mewah, tinggal dirumah megah, memiliki Balai banjar yang megah dan Pura tempat bersembahyang yang megah pula meski semua itu dibangun diatas akar moralitas yang rapuh. Semakin lama budaya yang dikendalikan uang ini semakin kuat dan disadari atau tidak semakin meruntuhkan nilai-nilai moral yang ideal.
Kembali ke soal menenggak minuman keras, Kondisi generasi muda di Bali sebenarnya jauh lebih memprihatinkan di bandingkan di kota besar yang saya ketahui. Disemarang misalnya, mencari warung penjual minuman Bir misalnya tidaklah mudah. Mungkin hanya toko/warung tertentu saja. Demikian juga aktivitas generasi muda yang menenggak miras tidak terlalu masif seperti di Denpasar Bali. Atau mungkin saja ada, tetapi karena saya belum begitu mengenal daerah-daerah di kota Semarang ini jadinya saya tidak bisa melihat dengan jelas. Persoalannya yang penting kini adalah, siapakah yang bisa menghentikan pergeseran nilai budaya ini??? Pemerintah?? Sangat tidak mungkin karena mereka terlalu asyik dengan mainan kekuasaan nya. Kalaupun mau, masyarakat lah yang harus lebih cepat merubah dirinya, melakukan revolusi mental budaya. Berani dengan tegas berdiri diatas nilai moral dan mengesampingkan keutamaan materi dan kenikmatan duniawi yang mencerabut akar jati diri mereka. Apakah mungkin? Tidak ada yang bisa menjawab pasti.
Tuesday, May 26, 2009
Dalam kendali Uang dan Jabatan

Belakangan ini, Istri saya agak rewel, terutama saat menonton siaran berita di televisi menyangkut tentang sikap dan isi bicara para politisi. Saya rada-rada panik juga saat harus menjawab sejumlah pertanyaan yang meluncur dari bibirnya. Seperti yang terjadi kemarin sore, "Bli apakah para elite pemimpin politik, meteri, presiden atau kepala daerah ini, benar-benar memikirkan rakyat? Omongannya di TV selalu bilang demi bangsa dan negara, tapi kenyataannya kok seperti ini? Mengapa mereka tidak usah diberi fasilitas saja, sepertinya mereka keenakan dikasi fasilitas sampai-sampai lupa urusan rakyat??" Begitu pertanyaan beruntun yang harus saya terima saat minum teh disore hari sambil menonton berita di TV.
Beruntunnya pertanyaan dari Istri tercinta membuat saya tidak bisa langsung menjawab. Saya mesti terdiam dulu, sambil mengunyah dan menelan kue pukis yang baru saja saja beli di depan pasar dekat rumah kos saya. "Ya.. isi hati manusia siapa yang tahu Gek...", Jawab saya singkat. Dahinya sedikit mengeryit mendengar jawaban saya yang singkat. Mungkin dia berpikir, pertanyaan nya banyak kok jawabanya singkat?. "Menurut saya, saat mereka belum menjabat, memang keinginan nya cukup besar untuk membela rakyat," lanjut saya memberi jawaban sambil memperbaiki posisi duduk saya. Masalahnya adalah ketika sudah menjabat, ada banyak godaan, ada banyak kepentingan yang memaksa mereka untuk melupakan rakyat. Kuncinya adalah pada persoalan mentalitas dan moral para pejabat-pejabat itu sendiri. Tidak banyak pejabat di Indonesia yang memiliki moralitas dan mentalitas yang memadai sebagai seorang pemimpin. Bahkan bisa dikatakan terlalu banyak pejabat yang mudah dibeli terutama dengan uang.
Uang menjadikan manusia itu mudah melupakan nuraninya. Uang membuat telinga manusia tidak lagi mendengar suara hatinya yang paling dalam. Uang menjadikan semua kekuatan, kebersihan dan kesucian pikiran menjadi mudah terkotori. Lalu apakah uang itu pantas untuk dibenci???. Ini persoalan yang juga sulit untuk dijawab, karena untuk hidup manusia harus menggunakan uang membeli kebutuhan hidup. Cuma jumlah uang yang pas dan cukup selalu jadi perdebatan.
Masalahnya adalah uang dan jabatan lebih menjadi pengendali, bukan manusia yang mengendalikan uang dan jabatan. Mungkin inilah masalah pokoknya. Kesejatian manusia di Indonesia telah meluluh terlalu banyak. Manusia Indonesia sudah bukan lagi manusia yang benar-benar manusia. Ia adalah mahluk yang tidak lagi menyadari kemanusiaannya. Ia dikendalikan oleh keinginannya.
Kini giliran istri saya yang nampak semakin bingung dengan penjelasan saya yang panjang lebar. Mungkin karena itu ia memilih diam dan senyum kearah saya. Ah... Istriku... Betapa cinta dan sayangnya aku padamu.....Mmmmmuaaachhhh....
kepada para Calon Presiden
Manusia 1/2 Dewa
song by : iwan fals
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan
Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Reff:
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Kembali ke: Reff
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
song by : iwan fals
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Suara yang keluar dari dalam goa
Goa yang penuh lumut kebosanan
Walau hidup adalah permainan
Walau hidup adalah hiburan
Tetapi kami tak mau dipermainkan
Dan kami juga bukan hiburan
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Reff:
Masalah moral masalah akhlak
Biar kami cari sendiri
Urus saja moralmu urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Kembali ke: Reff
Turunkan harga secepatnya
Berikan kami pekerjaan
Tegakkan hukum setegak-tegaknya
Adil dan tegas tak pandang bulu
Pasti kuangkat engkau
Menjadi manusia setengah dewa
Wahai presiden kami yang baru
Kamu harus dengar suara ini
Friday, May 22, 2009
Tarif murah Selular, Baik atau buruk?
tarif bertelepon selular sekarang menjadi lebih murah. Ini berkah atau musibah?? Tidak jelas jawaban pastinya dan apapun jawabanya sangat layak menjadi perdebatan. Yang jelas semakin murah tarif telepon, banyak orang yang produktivitasnya menjadi berkurang. Ini terutama terjadi pada mereka yang bekerja sebagai tenaga di sektor informal atau semi formal. Misalnya saja pembantu rumah tangga. Bagaimana tidak, sejak tarif ber telpon seluler demikian rendahnya, banyak orang yang kemudian sibuk bertelepon ria. Tangannya tidak pernah lepas dari telepon genggam, entah apa yang dibicarakan, bertelepon nya bisa berjam-jam.
Yah... ini memang dampak yang sulit dihindari dari kemajuan sebuah teknologi. Bagi siapapun yang hanya ingin mengambil manfaat dari teknologi sebesar-besarnya untuk memenuhi keinginan (want) bukan kebutuhan (need) memang akan menjadi pangsa pasar yang empuk bagi investasi dibidang teknologi. Dan di Indonesia, banyak yang menggunakan teknologi semata-mata untuk memenuhi keiningan nya saja. Jadilah murahnya tarif telepon digunakan untuk bercakap-cakap yang tidak penting. Berpuluh menit bahkan sampai berjam-jam.
Tidak heran kalau pangsa pasar pengembangan investasi telepon selular di Indonesia selalu saja menggiurkan. Apalagi sebenarnya dari segi harga dibanding dengan negara lain, tarif sambungan selular di Indonesia masih tergolong tinggi dan ternyata toh juga tetap laku. Kibuli konsumen dengan iklan menggiurkan bahwa tarif operator tersebut paling murah, maka akan banyak konsumen yang tertarik. Beramai-ramailah operator telepon selular tanamkan modalnya di Indonesia.
Kembali ke soal produktivitas kerja, dengan mentalitas yang lemah, pengguna telepon selular di Indonesia hanya melihat murahnya tarif hanya sebatas manfaat sesaat. Sekali lagi bertelepon yang tidak penting-penting tetap dilakukan. Lalu soal kerja, menjadi yang nomer sekian. Saya kurang bisa memahami, mengapa berbicara ditelepon menjadi hal yang mengasikkan bagi seseorang. Kita tidak bisa melihat orang yang kita ajak bicara dan kita tidak tahu ia sebenarnya sedang melakukan apa saat bertelepon ria dengan kita.
Tapi siapa yang mau mengajak orang untuk bertelepon seperlunya saja. Karena kalaupun ada iklan di media, pastilah iklan mengajak orang untuk menggunakan telepon untuk semua keperluan komunikasi. Semuanya mengaku penyedia tarif paling murah. Akibatnya kita semakin sering melihat orang-orang yang tersenyum-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri dan berbicara sendiri-sendiri.
Yah... ini memang dampak yang sulit dihindari dari kemajuan sebuah teknologi. Bagi siapapun yang hanya ingin mengambil manfaat dari teknologi sebesar-besarnya untuk memenuhi keinginan (want) bukan kebutuhan (need) memang akan menjadi pangsa pasar yang empuk bagi investasi dibidang teknologi. Dan di Indonesia, banyak yang menggunakan teknologi semata-mata untuk memenuhi keiningan nya saja. Jadilah murahnya tarif telepon digunakan untuk bercakap-cakap yang tidak penting. Berpuluh menit bahkan sampai berjam-jam.
Tidak heran kalau pangsa pasar pengembangan investasi telepon selular di Indonesia selalu saja menggiurkan. Apalagi sebenarnya dari segi harga dibanding dengan negara lain, tarif sambungan selular di Indonesia masih tergolong tinggi dan ternyata toh juga tetap laku. Kibuli konsumen dengan iklan menggiurkan bahwa tarif operator tersebut paling murah, maka akan banyak konsumen yang tertarik. Beramai-ramailah operator telepon selular tanamkan modalnya di Indonesia.
Kembali ke soal produktivitas kerja, dengan mentalitas yang lemah, pengguna telepon selular di Indonesia hanya melihat murahnya tarif hanya sebatas manfaat sesaat. Sekali lagi bertelepon yang tidak penting-penting tetap dilakukan. Lalu soal kerja, menjadi yang nomer sekian. Saya kurang bisa memahami, mengapa berbicara ditelepon menjadi hal yang mengasikkan bagi seseorang. Kita tidak bisa melihat orang yang kita ajak bicara dan kita tidak tahu ia sebenarnya sedang melakukan apa saat bertelepon ria dengan kita.
Tapi siapa yang mau mengajak orang untuk bertelepon seperlunya saja. Karena kalaupun ada iklan di media, pastilah iklan mengajak orang untuk menggunakan telepon untuk semua keperluan komunikasi. Semuanya mengaku penyedia tarif paling murah. Akibatnya kita semakin sering melihat orang-orang yang tersenyum-senyum sendiri, ketawa-ketawa sendiri dan berbicara sendiri-sendiri.
Thursday, May 21, 2009
Tentaraku, Nasibmu Kini...
Apa yang berbau Orde Baru selalu saja memunculkan antipati dari sebagian besar masyarakat Indonesia. Apa saja... Misalnya saja Penataran P4, GBHN, Militerisme, bahkan Pancasila saja dianggap sangat Orba sehingga tidak banyak lagi yang bersuara lantang membela dan mengaku diri sebagai Pancasilais. Ironisnya pejabat-pejabat negara juga emoh bicara tentang Pancasila dan menjadikannya pedoman dalam menentukan kebijakan-kebijakan. Dampaknya pun kemudian cukup besar bagi negara ini. Bukannya menuju kepada perbaikan, negara ini justru semakin dirusak dan dibawa kearah yang kurang jelas.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah salah satu citra negatif yang melekat hingga kini akibat buruknya rezim orde baru. Lihat saja bagaimana TNI tidak lagi dipandang sebagai bagian dari rakyat melainkan lebih kepada "musuh" rakyat itu sendiri. Bahkan sikap konfrontatif terhadap Tentara diperagakan secara terbuka oleh rakyat. Kasus penolakan tempat latihan tentara oleh Rakyat merebak dibeberapa tempat di Indonesia. Memang akbatnya korban berjatuhan dari kalangan rakyat karena yang punya peluru ya... memang tentara. Kasus-kasus tersebut semakin memperburuk cintra Tentara dimata masyarakat. Lantas apakah memang negeri ini sudah tidak lagi membutuhkan tentara?? Toh juga tidak akan ada negara yang menginvasi Indonesia, karena dunia sudah begitu terbukanya. Artinya kecil kemungkinan akan terjadi perang terbuka karena ancaman dari negara lain terhadap Indonesia. Ini membuat seolah-olah urusan militer dan pertahanan negara tidak lagi menjadi prioritas utama. Benarkah pandangan ini??
Entahlah... Namun yang jelas, peta kekuatan negara-negara didunia nyatanya masih sangat ditentukan oleh kekuatan militer negara tersebut. Buku fenomenal tentang Benturan Peradaban (Class of Civilitation) jelas menyebut bahwa klasifikasi negara-negara kuat tergantung dari kuat lemahnya militer yang dimiliki. China dan India misalnya dikatagorikan sebagai negara-negara adidaya masa depan karena keberhasilannya dalam mengembangkan teknologi militer hingga memiliki rudal-rudal dengan hulu ledak nuklir.
Militer Indonesia pasca Orde baru memang semakin memprihatinkan. Setiap waktu kondisinya nampak semakin lemah (atau sengaja dilemahkan??). Anggarannya terus dipangkas, dikurangi oleh otoritas negara. Meski presidennya dari Tentara sekalipun (SBY) toh tidak berarti tentara diperhatikan. Faktanya banyak peristiwa menyedihkan mendera Tentara Nasional Indonesia. Salah satunya jatuhnya pesawat Hercules di Magetan 20 Mei 2009. Sebelumnya pesawat TNI juga jatuh di Bandung menewaskan belasan tentara. Kisah sedih sempat merebak dari tanah papua ketika tentara dari satu batalyon mendemo komandannya. Alasannya sangat membuat kita miris, TNI tak punya biaya untuk membawa jenazah prajuritnya yang meninggal kekampung halamannya!!. Bahkan untuk mengurusi dirinya sendiri saja TNI sudah tidak mampu. Bagaimana TNI akan bisa mengurusi perlindungan rakyat Indonesia??
Suka tidak suka, wibawa negeri ini salah satu faktornya juga adalah karena kekuatan tentaranya. Ini berarti suka-tidak suka, terlepas dari sejarah kelam masa lalu tentara Indonesia, kekuatan militer harus menjadi salah satu prioritas penting. Kebijakan negara mestinya menempatkan masalah militer sebagai hal yang tidak kalah pentingnya. Namun hal ini memang perlu dibarengi oleh reformasi yang serius di tubuh TNI. Jenderal-jenderal korup di TNI harus dihabisi karena mereka lebih sering hidup nyaman dan nyenyak dari menghisap para tentara bawahannya. Bahkan uang lauk pauk para prajurit di Lapangan pun konon dipotong para atasan. Jika jenderal-jenderal TNI punya harta berlimpah ruah, lalu para prajurit-prajurit dibawah hidupnya kesusahan, siapa lalu yang akan mengurusi dengan serius tentang pertahanan negara?? Sipil??? Sepertinya sulit, karena orang-orang sipil Indonesia sudah terlalu pragmatis, terlalu mudah tergiur oleh uang dan materi. Disuruh mikirin negara, pertanyaan yang pertama "saya dapat apa dulu??"
Tentara Nasional Indonesia (TNI) adalah salah satu citra negatif yang melekat hingga kini akibat buruknya rezim orde baru. Lihat saja bagaimana TNI tidak lagi dipandang sebagai bagian dari rakyat melainkan lebih kepada "musuh" rakyat itu sendiri. Bahkan sikap konfrontatif terhadap Tentara diperagakan secara terbuka oleh rakyat. Kasus penolakan tempat latihan tentara oleh Rakyat merebak dibeberapa tempat di Indonesia. Memang akbatnya korban berjatuhan dari kalangan rakyat karena yang punya peluru ya... memang tentara. Kasus-kasus tersebut semakin memperburuk cintra Tentara dimata masyarakat. Lantas apakah memang negeri ini sudah tidak lagi membutuhkan tentara?? Toh juga tidak akan ada negara yang menginvasi Indonesia, karena dunia sudah begitu terbukanya. Artinya kecil kemungkinan akan terjadi perang terbuka karena ancaman dari negara lain terhadap Indonesia. Ini membuat seolah-olah urusan militer dan pertahanan negara tidak lagi menjadi prioritas utama. Benarkah pandangan ini??
Entahlah... Namun yang jelas, peta kekuatan negara-negara didunia nyatanya masih sangat ditentukan oleh kekuatan militer negara tersebut. Buku fenomenal tentang Benturan Peradaban (Class of Civilitation) jelas menyebut bahwa klasifikasi negara-negara kuat tergantung dari kuat lemahnya militer yang dimiliki. China dan India misalnya dikatagorikan sebagai negara-negara adidaya masa depan karena keberhasilannya dalam mengembangkan teknologi militer hingga memiliki rudal-rudal dengan hulu ledak nuklir.
Militer Indonesia pasca Orde baru memang semakin memprihatinkan. Setiap waktu kondisinya nampak semakin lemah (atau sengaja dilemahkan??). Anggarannya terus dipangkas, dikurangi oleh otoritas negara. Meski presidennya dari Tentara sekalipun (SBY) toh tidak berarti tentara diperhatikan. Faktanya banyak peristiwa menyedihkan mendera Tentara Nasional Indonesia. Salah satunya jatuhnya pesawat Hercules di Magetan 20 Mei 2009. Sebelumnya pesawat TNI juga jatuh di Bandung menewaskan belasan tentara. Kisah sedih sempat merebak dari tanah papua ketika tentara dari satu batalyon mendemo komandannya. Alasannya sangat membuat kita miris, TNI tak punya biaya untuk membawa jenazah prajuritnya yang meninggal kekampung halamannya!!. Bahkan untuk mengurusi dirinya sendiri saja TNI sudah tidak mampu. Bagaimana TNI akan bisa mengurusi perlindungan rakyat Indonesia??
Suka tidak suka, wibawa negeri ini salah satu faktornya juga adalah karena kekuatan tentaranya. Ini berarti suka-tidak suka, terlepas dari sejarah kelam masa lalu tentara Indonesia, kekuatan militer harus menjadi salah satu prioritas penting. Kebijakan negara mestinya menempatkan masalah militer sebagai hal yang tidak kalah pentingnya. Namun hal ini memang perlu dibarengi oleh reformasi yang serius di tubuh TNI. Jenderal-jenderal korup di TNI harus dihabisi karena mereka lebih sering hidup nyaman dan nyenyak dari menghisap para tentara bawahannya. Bahkan uang lauk pauk para prajurit di Lapangan pun konon dipotong para atasan. Jika jenderal-jenderal TNI punya harta berlimpah ruah, lalu para prajurit-prajurit dibawah hidupnya kesusahan, siapa lalu yang akan mengurusi dengan serius tentang pertahanan negara?? Sipil??? Sepertinya sulit, karena orang-orang sipil Indonesia sudah terlalu pragmatis, terlalu mudah tergiur oleh uang dan materi. Disuruh mikirin negara, pertanyaan yang pertama "saya dapat apa dulu??"
Tuesday, May 19, 2009
Kekayaan Capres dan Janji Perubahan
Calon Presiden dan Wakil Presiden melaporkan kekayaan mereka. Fantastis! Angka kekayaannya bermilyar-milyar bahkan trilyunan rupiah. Gila!!! Mereka kaya bener. Darimana harta kekayaan mereka?? Mengingat tidak banyak dari mereka yang berlatar belakang pengusaha kecuali Jusuf Kalla. Yang lain?? Pensiunan Jenderal (Prabowo dan Wiranto)pensiunan Presiden (Megawati) dan Akademisi/birokrat (Boediono). Mungkin wajar kalau mereka kaya, bukankah tidak aneh kalau ada orang kaya di Indonesia meski tidak jelas sumber kekayaan mereka darimana.
Yang mengganjal pikiran adalah betapa sebenarnya negeri ini menunjukkan bahwa jurang antar yang miskin dan kaya ini sangat jauh. Bagaimana bisa seorang pemimpin disebuah negeri yang banyak rakyatnya masih miskin, memiliki simpanan kekayaan yang berlimpah ruah??? Yang paling ironis adalah ketika memimpin, mereka tidak ada kesungguhan berjuang demi kesejahteraan rakyat. Lalu salahkah jika ada rakyat yang ribut menduga-duga bahkan menuding langsung kepada para pemimpin bahwa mereka hanyalah pengejar kekuasaan yang haus akan kekayaan.
Bangsa ini penuh ironi. Bangsa ini penuh kemunafikan. Sayangnya tidak banyak rakyat yang mau sadar. Alih-alih sadar, rakyat lebih banyak pasrah. Pernahkah anda mendengar kata-kata ini : "Kita tunggu saja datangnya Ratu Adil, Itulah jawaban atas masalah ini". Inilah bentuk kepasrahan, kebuntuan berpikir kita yang tidak mau merubah diri sendiri demi masa depan yang lebih baik. Lihatlah bagaimana justru demokrasi yang harusnya menjadi ruang memilih pemimpin yang benar-benar baik, justru berujung pada terpilihnya para penjahat-penjahat lama. Terpilihnya sosok yang diragukan bisa membawa perubahan pada nasib Bangsa.
Lihat saja pemilihan Presiden nanti. Mudah-mudahan kali ini rakyat tidak lagi dikibuli karena kita sudah tidak lagi punya pilihan dengan munculnya lagi wajah-wajah lama. Wajah-wajah yang secara jujur tidak memberi kita harapan baru. Bukankah mereka-mereka sudah pernah memimpin negeri ini. Tapi apa yang bisa mereka lakukan kecuali menyengsarakan nasib rakyat? Lalu sekarang mereka berjanji bahwa ekonomi rakyat, pemberantasan korupsi dan bla,bla,bla janji manis lainnya di umbar.
Rakyat Indonesia memang baik hati, karena ingatan mereka pendek. Dalam arti lain kita mudah sekali terlena oleh janji-janji palsu meski yang mengucapkan janji tetap saja orang yang sama. Inilah negeriku, bangsaku, Indonesia ku tercinta. Ah...
Yang mengganjal pikiran adalah betapa sebenarnya negeri ini menunjukkan bahwa jurang antar yang miskin dan kaya ini sangat jauh. Bagaimana bisa seorang pemimpin disebuah negeri yang banyak rakyatnya masih miskin, memiliki simpanan kekayaan yang berlimpah ruah??? Yang paling ironis adalah ketika memimpin, mereka tidak ada kesungguhan berjuang demi kesejahteraan rakyat. Lalu salahkah jika ada rakyat yang ribut menduga-duga bahkan menuding langsung kepada para pemimpin bahwa mereka hanyalah pengejar kekuasaan yang haus akan kekayaan.
Bangsa ini penuh ironi. Bangsa ini penuh kemunafikan. Sayangnya tidak banyak rakyat yang mau sadar. Alih-alih sadar, rakyat lebih banyak pasrah. Pernahkah anda mendengar kata-kata ini : "Kita tunggu saja datangnya Ratu Adil, Itulah jawaban atas masalah ini". Inilah bentuk kepasrahan, kebuntuan berpikir kita yang tidak mau merubah diri sendiri demi masa depan yang lebih baik. Lihatlah bagaimana justru demokrasi yang harusnya menjadi ruang memilih pemimpin yang benar-benar baik, justru berujung pada terpilihnya para penjahat-penjahat lama. Terpilihnya sosok yang diragukan bisa membawa perubahan pada nasib Bangsa.
Lihat saja pemilihan Presiden nanti. Mudah-mudahan kali ini rakyat tidak lagi dikibuli karena kita sudah tidak lagi punya pilihan dengan munculnya lagi wajah-wajah lama. Wajah-wajah yang secara jujur tidak memberi kita harapan baru. Bukankah mereka-mereka sudah pernah memimpin negeri ini. Tapi apa yang bisa mereka lakukan kecuali menyengsarakan nasib rakyat? Lalu sekarang mereka berjanji bahwa ekonomi rakyat, pemberantasan korupsi dan bla,bla,bla janji manis lainnya di umbar.
Rakyat Indonesia memang baik hati, karena ingatan mereka pendek. Dalam arti lain kita mudah sekali terlena oleh janji-janji palsu meski yang mengucapkan janji tetap saja orang yang sama. Inilah negeriku, bangsaku, Indonesia ku tercinta. Ah...
Subscribe to:
Posts (Atom)